Hari itu Fikri kehilangan kunci lemarinya. Ia mencari di bawah kasur, di sela-sela buku, bahkan di kantong seragam yang sudah dua hari menggantung. Tidak ketemu.
Teman sekamarnya menawarkan bantuan. Mereka membongkar sudut kamar satu per satu, sampai lupa bahwa waktu mengaji sore hampir tiba. Kunci itu tetap tidak ditemukan.
Menjelang isya, seorang santri kelas bawah datang mengetuk pintu. Ia menyerahkan sebuah kunci kecil yang ditemukannya di dekat tempat wudu. “Saya lihat ada nama Kakak di gantungannya,” katanya pendek, lalu pamit.
Fikri menggenggam kunci itu lama sekali. Bukan karena lemarinya yang akhirnya bisa dibuka, melainkan karena ia baru sadar: di pesantren, barang yang hilang sering kembali lebih cepat daripada prasangka yang telanjur singgah.